Mahasiswa STIK Membuat 12 Sumur Bor di Aceh

Mahasiswa STIK Membuat 12 Sumur Bor di Aceh. Sebanyak 12 sumur bor berhasil dibuat oleh sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah selama program pengabdian masyarakat yang berlangsung sepanjang Januari hingga awal Februari 2026. Inisiatif ini menjadi sorotan karena berhasil menyediakan akses air bersih bagi lebih dari 1.800 jiwa di 12 desa yang selama bertahun-tahun mengalami kesulitan air tanah, terutama di musim kemarau panjang yang semakin sering melanda dataran tinggi Aceh. Mahasiswa yang terdiri dari jurusan teknik lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keperawatan bekerja sama dengan warga setempat serta aparat desa untuk mengebor hingga kedalaman rata-rata 60-80 meter, menemukan sumber air yang cukup stabil dan layak konsumsi setelah melalui pengujian sederhana di lapangan. Kegiatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah air minum, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi bisa langsung berdampak pada kebutuhan dasar masyarakat di daerah terpencil, sekaligus melatih mahasiswa untuk menerapkan ilmu secara praktis di tengah tantangan medan yang cukup berat. REVIEW KOMIK

Latar Belakang Masalah Air Bersih di Aceh Tengah: Mahasiswa STIK Membuat 12 Sumur Bor di Aceh

Wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah dikenal dengan topografi pegunungan yang membuat akses air permukaan terbatas, sementara musim kemarau yang kini bisa berlangsung hingga enam bulan membuat sumur dangkal banyak mengering. Beberapa desa bahkan harus mengangkut air dari sumber yang berjarak 5-10 kilometer menggunakan motor atau berjalan kaki, sehingga beban terutama jatuh pada perempuan dan anak-anak. Kondisi ini sering memicu masalah kesehatan seperti diare, infeksi kulit, dan malnutrisi pada balita akibat air yang tidak bersih. Mahasiswa STIK yang melakukan survei awal sejak akhir 2025 menemukan bahwa lebih dari 70 persen rumah tangga di 12 lokasi target mengalami krisis air bersih secara musiman, dengan sebagian besar bergantung pada air hujan yang dikumpulkan dalam drum atau bak penampung yang rentan tercemar. Data sederhana dari pemeriksaan kesehatan masyarakat menunjukkan peningkatan kasus penyakit berbasis lingkungan di musim kemarau, sehingga pembuatan sumur bor dianggap sebagai solusi paling realistis dan berkelanjutan untuk memberikan akses air tanah yang lebih dalam dan stabil sepanjang tahun.

Proses Pembuatan Sumur dan Tantangan di Lapangan: Mahasiswa STIK Membuat 12 Sumur Bor di Aceh

Pembuatan 12 sumur bor dilakukan secara bertahap dengan melibatkan tim kecil beranggotakan 8-10 mahasiswa per lokasi, dibantu warga desa yang menyediakan tenaga dan logistik dasar seperti makanan serta tempat tinggal sementara. Proses pengeboran menggunakan alat manual dan semi-mekanis yang dibawa dari kampus, dengan kedalaman yang disesuaikan berdasarkan hasil survei geologi sederhana dan pengalaman warga setempat. Tantangan utama muncul dari medan berbukit yang sulit dilalui kendaraan, cuaca yang sering hujan deras mengganggu pengeboran, serta keterbatasan listrik di desa-desa terpencil sehingga generator harus dioperasikan secara bergantian. Selain itu, tim harus memastikan kualitas air melalui pengendapan alami, penyaringan pasir, dan pengujian pH serta kekeruhan sebelum sumur diserahkan kepada warga. Setiap sumur dilengkapi pompa manual sederhana dan bak penampungan berkapasitas 1.000-2.000 liter yang dibangun bersama masyarakat agar distribusi air lebih merata. Proses ini memakan waktu rata-rata 10-14 hari per sumur, namun hasilnya langsung terasa karena sebagian besar sumur sudah menghasilkan air jernih sejak hari pertama pengoperasian.

Dampak Langsung bagi Masyarakat dan Pembelajaran bagi Mahasiswa

Keberadaan 12 sumur bor ini langsung mengubah kehidupan sehari-hari warga di 12 desa target. Anak-anak tidak lagi harus bolos sekolah untuk mengambil air, ibu-ibu bisa menghemat waktu hingga empat jam sehari yang sebelumnya dihabiskan untuk mencari air, dan risiko penyakit terkait air kotor mulai menurun berdasarkan laporan awal dari puskesmas setempat. Beberapa desa bahkan mulai membentuk kelompok pengelola air untuk memastikan pemeliharaan sumur tetap terjaga jangka panjang. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pembelajaran luar biasa tentang kerja tim lintas disiplin, adaptasi dengan budaya lokal, serta pentingnya melibatkan masyarakat agar solusi yang dibangun benar-benar berkelanjutan. Mereka belajar bahwa ilmu kesehatan tidak hanya tentang pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui penyediaan kebutuhan dasar seperti air bersih. Pengalaman ini juga memperkuat rasa tanggung jawab sosial mereka sebagai calon tenaga kesehatan yang akan bekerja di berbagai daerah nantinya, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa bisa memberikan kontribusi nyata meski dengan sumber daya terbatas.

Kesimpulan

Keberhasilan mahasiswa STIK dalam membuat 12 sumur bor di Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadi bukti bahwa program pengabdian masyarakat yang terencana dan melibatkan ilmu terapan bisa menghasilkan dampak besar bagi komunitas yang selama ini terpinggirkan. Dengan menyediakan akses air bersih bagi ribuan jiwa, inisiatif ini tidak hanya mengatasi masalah kesehatan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan di daerah pegunungan yang sulit dijangkau. Ke depan, diharapkan model serupa bisa direplikasi di wilayah lain dengan melibatkan lebih banyak mahasiswa dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah agar sumur-sumur tersebut tetap berfungsi optimal. Kegiatan ini juga mengingatkan bahwa solusi sederhana namun tepat sasaran sering kali lebih efektif daripada proyek besar yang terkadang tidak menyentuh akar masalah. Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi modal berharga untuk masa depan karir mereka, sementara bagi masyarakat Aceh, sumur-sumur tersebut menjadi simbol harapan bahwa generasi muda tetap peduli dan siap berkontribusi langsung bagi kesejahteraan bersama.

BACA SELENGKAPNYA DI…