Gempa M4,3 Guncang Donggala Sulawesi Tengah
Gempa M4,3 Guncang Donggala Sulawesi Tengah. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,3 mengguncang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat pagi (13 Februari 2026) pukul 07.42 WITA. Pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 km dengan koordinat 0,45° LS dan 119,78° BT, atau sekitar 12 km barat daya Kecamatan Banawa Selatan. Guncangan terasa kuat di wilayah Donggala, Palu, dan sebagian Parigi Moutong. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun warga diminta tetap waspada terhadap gempa susulan. Hingga Jumat siang, belum ada laporan korban jiwa, tapi belasan rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang. REVIEW KOMIK
Kronologi dan Intensitas Guncangan: Gempa M4,3 Guncang Donggala Sulawesi Tengah
Gempa terjadi di darat dengan mekanisme sesar geser mendatar, sesuai karakteristik aktivitas sesar Palu-Koro yang masih aktif. BMKG mencatat gempa dirasakan skala III–IV MMI di Donggala dan Palu, artinya getaran terasa kuat hingga benda-benda ringan bergoyang dan beberapa warga panik keluar rumah. Di Kecamatan Banawa Selatan dan Sirenja, intensitas mencapai IV MMI, sementara di Palu dan Parigi Moutong terasa III MMI.
Guncangan berlangsung sekitar 5–7 detik dan disusul dua gempa susulan kecil (M2,8 dan M3,1) dalam kurun waktu satu jam. Warga di sekitar pantai Donggala sempat khawatir akan potensi tsunami, namun BMKG langsung mengeluarkan pernyataan bahwa gempa dangkal ini tidak memicu gelombang besar. Masyarakat diimbau tidak panik dan menghindari bangunan yang retak atau rusak.
Dampak dan Respons Darurat: Gempa M4,3 Guncang Donggala Sulawesi Tengah
Dampak terasa paling parah di Desa Lende Tovea dan sekitar Kecamatan Banawa Selatan. Sebanyak 18 rumah mengalami kerusakan ringan (retak dinding dan plafon), 7 rumah rusak sedang (dinding roboh sebagian), dan 2 rumah panggung mengalami kerusakan berat karena pondasi bergeser. Tidak ada korban jiwa, namun tiga orang mengalami luka ringan akibat jatuh saat panik evakuasi.
BPBD Kabupaten Donggala bersama tim SAR gabungan TNI-Polri, Basarnas Palu, dan relawan PMI langsung mendirikan posko darurat di Kantor Camat Banawa Selatan. Tim assessment dikerahkan untuk mendata kerusakan rumah dan infrastruktur. Bantuan logistik berupa sembako, air minum, selimut, dan tenda darurat sudah mulai disalurkan ke warga terdampak. PLN Palu mencatat sekitar 450 pelanggan mengalami pemadaman sementara karena tiang listrik miring, sementara PDAM memastikan pasokan air bersih tetap berjalan meski ada gangguan kecil di pipa distribusi. Gubernur Sulawesi Tengah menyatakan siap mengalokasikan dana siaga provinsi dan berkoordinasi dengan BNPB jika kerusakan lebih luas dari perkiraan.
Kesimpulan
Gempa M4,3 di Donggala pada 13 Februari 2026 menjadi pengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah masih berada di zona aktif sesar Palu-Koro yang berpotensi menghasilkan gempa signifikan kapan saja. Meski magnitudonya relatif kecil dan tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan rumah dan kepanikan warga menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan. Respons cepat BPBD, TNI-Polri, dan pemerintah daerah patut diapresiasi, terutama dalam evakuasi dan distribusi bantuan awal. Namun kejadian ini juga menegaskan perlunya percepatan program mitigasi: penguatan struktur rumah tahan gempa, edukasi evakuasi rutin, dan pemantauan sesar yang lebih intensif. Semoga gempa susulan tidak terjadi dan warga Donggala bisa segera pulih dari guncangan pagi ini. Kesiapsiagaan tetap menjadi kunci utama menghadapi ancaman bencana di wilayah rawan seperti ini.
