Tentara Israel Dikabarkan Banyak Yang Mundur Diri

Tentara Israel Dikabarkan Banyak Yang Mundur Diri. Militer Israel sedang menghadapi gelombang pengunduran diri dan penolakan dinas yang signifikan pada akhir 2025, terutama di kalangan personel tetap dan reservis. Ratusan perwira dan tentara karir mengajukan resignasi, sementara tingkat kehadiran reservis menurun drastis akibat kelelahan fisik, tekanan mental, dan keraguan atas kelanjutan operasi di Gaza. Kepala staf militer memperingatkan krisis manpower yang berbahaya, dengan lonjakan bunuh diri dan permintaan bantuan psikologis mencapai ribuan kasus. Fenomena ini mencerminkan dampak panjang perang berkepanjangan, yang membuat banyak tentara memilih mundur demi kesehatan diri dan keluarga. BERITA BASKET

Krisis Manpower di Kalangan Personel Tetap: Tentara Israel Dikabarkan Banyak Yang Mundur Diri

Ratusan perwira dan tentara tetap mengajukan pengunduran diri sepanjang 2025, terutama karena gaji rendah, kelelahan akibat penugasan berulang, dan kurangnya insentif pensiun. Militer memperkirakan gelombang resignasi lebih besar jika janji kenaikan pensiun tidak segera direalisasikan. Kekurangan ini mencakup semua tingkat pangkat, menciptakan lubang di posisi kunci dan memaksa promosi cepat bagi personel kurang berpengalaman. Situasi diperburuk oleh perang multi-front, yang menuntut kehadiran konstan tanpa rotasi memadai, membuat banyak tentara merasa terjebak dalam siklus tanpa akhir.

Penolakan Dinas Reservis dan Dampak Psikologis: Tentara Israel Dikabarkan Banyak Yang Mundur Diri

Reservists menunjukkan penurunan kehadiran hingga 50-60 persen dalam pemanggilan terbaru, dengan alasan mulai dari kelelahan ekonomi hingga keraguan moral atas operasi militer. Ribuan tentara mencari pengobatan psikologis, termasuk PTSD, dengan ratusan upaya bunuh diri tercatat sejak awal konflik. Beberapa reservis secara terbuka menolak dinas, menyebut perang sebagai beban tidak perlu yang merusak kehidupan pribadi. Krisis mental ini tidak hanya memengaruhi individu, tapi juga unit tempur, di mana motivasi menurun dan risiko kesalahan meningkat.

Respons Militer dan Tantangan Ke Depan

Pimpinan militer mengakui masalah ini sebagai ancaman strategis, dengan upaya merekrut personel baru dan menawarkan insentif terbatas. Namun, tanpa perubahan kebijakan signifikan seperti peningkatan gaji dan dukungan mental, exodus diperkirakan berlanjut. Beberapa unit bahkan kesulitan memenuhi kuota, memaksa penundaan operasi atau pengalihan tugas ke tentara wajib militer yang lebih muda. Situasi ini menyoroti perlunya reformasi mendalam untuk mempertahankan kekuatan tempur di tengah konflik berkepanjangan.

Kesimpulan

Gelombang pengunduran diri tentara Israel menjadi indikasi nyata tekanan ekstrem dari perang panjang di Gaza dan front lainnya. Dengan ratusan resignasi, penolakan reservis, dan krisis kesehatan mental yang melonjak, militer menghadapi tantangan internal serius yang bisa melemahkan kemampuan operasional jangka panjang. Pemulihan memerlukan pendekatan holistik, termasuk dukungan psikologis lebih baik dan insentif karir, agar tentara tidak terus memilih mundur. Ke depan, stabilitas militer bergantung pada bagaimana pimpinan menangani akar masalah ini demi menjaga kesiapan pasukan.

BACA SELENGKAPNYA DI…