Protes ICE di Minneapolis Terus Memanas, Tentara Siaga
Protes ICE di Minneapolis Terus Memanas, Tentara Siaga. Protes terhadap operasi besar Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Minneapolis memasuki hari kelima pada 20 Januari 2026 dan semakin memanas. Ratusan demonstran menduduki jalan-jalan sekitar fasilitas penahanan federal di pusat kota, memblokir akses kendaraan ICE dan menuntut penghentian razia massal terhadap imigran tanpa dokumen. Bentrokan dengan polisi semakin sering terjadi, memaksa Gubernur Minnesota Tim Walz mengumumkan status darurat terbatas dan mengaktifkan National Guard untuk membantu menjaga ketertiban. Hingga malam ini, setidaknya 87 orang ditangkap, 14 demonstran dan 5 petugas terluka, serta beberapa kendaraan rusak. Situasi ini menjadi salah satu konfrontasi terbesar antara demonstran pro-imigran dan aparat keamanan sejak masa awal pemerintahan Trump kedua. BERITA TERKINI
Kronologi Eskalasi dan Tuntutan Demonstran di Minneapolis: Protes ICE di Minneapolis Terus Memanas, Tentara Siaga
Aksi dimulai secara damai pada 16 Januari setelah ICE melancarkan operasi besar-besaran di Minneapolis dan pinggiran kota St. Paul. Dalam tiga hari pertama, sekitar 320 orang ditahan—mayoritas warga Latin Amerika, termasuk banyak yang sudah tinggal puluhan tahun di Amerika Serikat. Berita tentang penangkapan orang tua dan anak-anak yang terpisah dari keluarga memicu kemarahan besar di komunitas imigran. Pada hari ketiga, demonstran mulai memblokir pintu masuk fasilitas penahanan federal di South Minneapolis. Hari keempat, kelompok yang lebih radikal memecah kaca beberapa kendaraan dinas dan membakar ban di jalan. Malam keempat (19 Januari) menjadi titik balik: polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet setelah demonstran melempar batu dan botol api ke barisan petugas. Pagi 20 Januari, sekitar 400–500 orang kembali berkumpul dan kembali memblokir jalan utama menuju gedung federal. Tuntutan utama demonstran tetap sama: hentikan razia massal, bebaskan tahanan yang tidak memiliki catatan kriminal, dan cabut perintah eksekutif Trump yang memperluas kewenangan ICE di tempat-tempat sensitif (sekolah, rumah sakit, tempat ibadah).
Respons Aparat dan Aktivasi National Guard di Minneapolis: Protes ICE di Minneapolis Terus Memanas, Tentara Siaga
Polisi Minneapolis dan Sheriff County Hennepin sudah mengerahkan ratusan personel sejak hari ketiga. Namun setelah bentrokan malam 19 Januari, Gubernur Walz mengeluarkan perintah aktivasi National Guard Minnesota. Sekitar 800 tentara mulai dikerahkan pada pagi 20 Januari untuk mengamankan perimeter fasilitas federal dan jalur evakuasi darurat. Walz menegaskan bahwa penempatan National Guard bersifat “defensif” dan bertujuan melindungi keselamatan publik serta memastikan operasi penegakan hukum federal berjalan tanpa gangguan kekerasan. Namun keputusan ini langsung menuai kritik keras dari kelompok HAM dan beberapa anggota DPRD Minnesota. Mereka menilai penggunaan tentara untuk mengawal operasi imigrasi adalah langkah berlebihan dan mengingatkan pada peristiwa George Floyd 2020. Di sisi lain, pihak federal (DHS dan ICE) menegaskan bahwa razia ini sah dan fokus pada individu yang melanggar hukum imigrasi serta memiliki catatan kriminal. Mereka juga menolak tuduhan pemisahan keluarga secara sengaja.
Dampak Sosial dan Politik di Minnesota
Minneapolis kembali menjadi sorotan nasional sebagai pusat perlawanan terhadap kebijakan imigrasi keras pemerintahan Trump. Komunitas Latin Amerika dan Somalia di kota ini merasa sangat terancam—banyak keluarga memilih tidak berangkat kerja atau sekolah selama beberapa hari terakhir. Beberapa gereja dan masjid membuka pintu sebagai tempat perlindungan sementara. Dari sisi politik, situasi ini memperlebar jurang antara Partai Demokrat yang menguasai Minnesota dan pemerintahan federal. Gubernur Walz berulang kali menyerukan “pendekatan yang lebih manusiawi” terhadap imigrasi, sementara DPRD Minnesota yang mayoritas Demokrat mengancam akan mengajukan resolusi non-binding menentang operasi ICE. Di kubu Republik, beberapa tokoh lokal mendukung tindakan federal dan menyalahkan demonstran atas kekerasan yang terjadi. Di tingkat nasional, peristiwa Minneapolis menjadi amunisi baru bagi kedua kubu dalam perdebatan imigrasi yang semakin panas menjelang pemilu paruh waktu 2026.
Kesimpulan
Protes anti-ICE di Minneapolis menunjukkan bahwa kebijakan imigrasi keras pemerintahan Trump masih memicu reaksi kuat di kota-kota besar dengan populasi imigran signifikan. Aktivasi National Guard untuk mengamankan operasi federal menambah ketegangan dan mengingatkan banyak orang pada trauma masa lalu. Situasi masih sangat cair—satu insiden besar lagi bisa mengubah skala konfrontasi. Yang jelas, baik demonstran maupun aparat keamanan sama-sama berada di posisi tegang. Semua pihak diharapkan menahan diri agar tidak ada korban jiwa tambahan, sementara dialog tentang solusi imigrasi yang lebih manusiawi masih jauh dari kenyataan.
