Bayi Berusia 14 Hari Meninggal Usai Kedingingan di Gaza

Bayi Berusia 14 Hari Meninggal Usai Kedingingan di Gaza. Seorang bayi laki-laki berusia 14 hari bernama Mohammed Khalil Abu al-Khair meninggal dunia akibat hipotermia di Gaza baru-baru ini. Tragedi ini terjadi di tenda pengungsian keluarganya di wilayah al-Mawasi, Khan Younis, selatan Gaza, di tengah cuaca dingin ekstrem yang melanda wilayah tersebut. Bayi yang baru lahir ini tak mampu bertahan karena suhu tubuhnya turun drastis akibat kurangnya perlindungan dari tenda sederhana yang basah oleh hujan. Kasus ini menjadi salah satu dari beberapa kematian serupa pada anak kecil musim dingin ini, menyoroti kondisi kemanusiaan yang semakin berat bagi jutaan pengungsi di Gaza. BERITA VOLI

Kondisi yang Menyebabkan Tragedi: Bayi Berusia 14 Hari Meninggal Usai Kedingingan di Gaza

Malam itu, ibu bayi, Eman Abu al-Khair, menemukan anaknya dalam keadaan dingin seperti es dengan tangan dan kaki membeku. Meski langsung dibawa ke rumah sakit dan dirawat intensif selama dua hari dengan ventilator, Mohammed tak tertolong dan meninggal pada pagi hari berikutnya. Pemeriksaan medis menunjukkan tak ada penyakit lain; tubuh kecilnya hanya tak kuat melawan dingin yang menusuk. Tenda nylon tipis yang ditinggali keluarga sering basah kuyup akibat hujan deras, tanpa pemanas atau selimut cukup. Suhu malam bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius, berbahaya bagi bayi baru lahir yang sistem pengatur suhu tubuhnya belum sempurna.

Dampak Cuaca Ekstrem pada Pengungsi: Bayi Berusia 14 Hari Meninggal Usai Kedingingan di Gaza

Musim dingin tahun ini memperburuk penderitaan pengungsi Gaza yang mayoritas tinggal di tenda sementara. Badai hujan dan angin kencang menyebabkan banjir di kamp-kamp, merendam tempat tinggal dan mempercepat hilangnya panas tubuh. Banyak keluarga kehilangan pakaian hangat atau bahan bakar untuk pemanas karena keterbatasan akses. Kasus hipotermia pada bayi dan anak kecil meningkat tajam, dengan beberapa kematian lain tercatat dalam minggu yang sama. Dokter setempat memperingatkan risiko lebih tinggi bagi lansia dan balita, terutama yang sudah lemah karena kurang gizi atau penyakit sebelumnya. Kondisi ini membuat dingin biasa menjadi ancaman mematikan bagi yang rentan.

Peringatan dari Tenaga Medis

Direktur kesehatan di Gaza menyatakan bahwa kematian seperti ini bisa dicegah dengan perlindungan dasar yang memadai. Tenaga medis di rumah sakit seperti Nasser di Khan Younis sering menerima pasien kecil dengan gejala hipotermia parah, tapi fasilitas terbatas membuat penanganan sulit. Mereka menekankan bahwa bayi baru lahir paling berisiko karena tubuh mereka cepat kehilangan panas di lingkungan basah dan berangin. Tanpa tenda lebih kuat, selimut tebal, atau tempat berlindung permanen, kasus serupa dikhawatirkan terus bertambah sepanjang musim dingin.

Kesimpulan

Kematian bayi berusia 14 hari akibat kedinginan di Gaza menjadi pengingat pilu akan kerentanan anak-anak di tengah situasi kemanusiaan yang sulit. Mohammed Khalil Abu al-Khair tak sempat menikmati dunia lebih lama karena dingin yang seharusnya bisa diatasi dengan perlindungan sederhana. Tragedi ini bukan yang pertama dan mungkin bukan terakhir, kecuali ada upaya lebih besar untuk melindungi pengungsi dari cuaca ekstrem. Keluarga seperti milik Eman kini berduka dalam tenda yang sama, sementara dunia diingatkan bahwa nyawa kecil bisa hilang hanya karena kurangnya kehangatan di musim dingin. Harapan tetap ada agar kondisi membaik dan tak ada lagi bayi yang jadi korban dingin mematikan.

BACA SELENGKAPNYA DI…