Total 4794 Hektar Sawah di Pandeglang Terkena banjir
Total 4794 Hektar Sawah di Pandeglang Terkena banjir. Hujan deras yang mengguyur Pandeglang sejak pertengahan Januari 2026 menyebabkan banjir luas di hampir seluruh wilayah. Sungai-sungai besar seperti Ciliman dan Cilemer meluap, merendam permukiman dan lahan pertanian. DPKP Kabupaten Pandeglang mencatat 4.794 hektare sawah terendam air hingga ketinggian yang bervariasi, membuat tanaman padi rusak parah. Dari jumlah tersebut, 65 hektare sudah dipastikan puso karena terendam terlalu lama. Petani di kecamatan rawan seperti Patia, Pagelaran, Panimbang, dan Cisata paling terdampak. Banjir ini menjadi salah satu yang terparah di awal tahun, mengingatkan kembali pada kerentanan wilayah ini terhadap musim hujan. BERITA TERKINI
Penyebab dan Penyebaran Banjir: Total 4794 Hektar Sawah di Pandeglang Terkena banjir
Banjir dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung berhari-hari, ditambah luapan sungai akibat drainase alam yang kurang optimal. Beberapa sungai utama meluap karena volume air melebihi kapasitas tanggul. Di Kecamatan Patia dan Pagelaran, banjir terbesar terjadi dengan genangan mencapai satu hingga dua meter di lahan sawah. Pendataan lapangan menunjukkan penyebaran merata di 15 kecamatan, termasuk Cikeusik, Picung, dan Saketi. Faktor geografis Pandeglang yang banyak berada di dataran rendah dan dekat pegunungan membuat air hujan cepat mengalir ke bawah dan menggenangi sawah. Cuaca ekstrem ini diperburuk oleh deforestasi di hulu sungai, yang mengurangi daya serap air tanah. Akibatnya, banjir datang cepat dan sulit surut dalam waktu singkat.
Dampak terhadap Petani dan Produksi Pangan: Total 4794 Hektar Sawah di Pandeglang Terkena banjir
Petani menghadapi kerugian berat karena sebagian besar sawah sedang memasuki fase kritis menjelang panen. Tanaman padi yang terendam lama mengalami busuk akar dan batang, sehingga tidak bisa diselamatkan. Dari 4.794 hektare terendam, 65 hektare puso berarti kehilangan hasil panen total di lahan tersebut. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran rupiah, memengaruhi ribuan kepala keluarga petani. Banyak yang kehilangan sumber penghasilan utama, terutama di musim tanam pertama tahun ini. Selain itu, banjir juga merusak infrastruktur irigasi, membuat pemulihan lahan semakin sulit. Stok pangan daerah tetap aman untuk sementara karena cadangan dari musim sebelumnya, tapi ancaman kekurangan jangka menengah tetap ada jika banjir berlanjut.
Upaya Penanganan dan Bantuan Pemerintah
Pemerintah kabupaten langsung bergerak dengan mendistribusikan bantuan darurat seperti sembako dan benih pengganti. Tim gabungan dari BPBD, DPKP, dan TNI-Polri melakukan evakuasi warga serta membersihkan saluran air untuk mempercepat surutnya banjir. Bantuan benih unggul disiapkan bagi petani yang mengalami puso, agar bisa menanam ulang secepat mungkin. Pemprov Banten juga turun tangan dengan koordinasi pendataan lebih akurat dan rencana rehabilitasi lahan. Petani diimbau tidak memaksakan panen di lahan terendam untuk menghindari kerugian lebih besar. Pencegahan jangka panjang seperti normalisasi sungai dan pembangunan tanggul lebih kuat menjadi prioritas ke depan. Harapannya, dengan respons cepat ini, dampak bisa diminimalisir dan petani bisa bangkit kembali.
Kesimpulan
Total 4.794 hektare sawah di Pandeglang terendam banjir menjadi pukulan berat bagi sektor pertanian daerah. Dengan 65 hektare puso, kerugian petani tidak main-main dan memerlukan dukungan berkelanjutan. Banjir ini menegaskan perlunya penanganan struktural jangka panjang agar kejadian serupa tidak berulang setiap musim hujan. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memperkuat infrastruktur dan meningkatkan ketahanan pangan. Meski tantangan besar, upaya cepat penanganan dan bantuan bisa membantu petani melewati masa sulit ini. Pandeglang punya potensi pertanian kuat, dan dengan langkah tepat, sawah-sawah itu bisa kembali hijau dan produktif.
