IHSG Turun 0.64% ke 8.212 pada 18 Februari

IHSG Turun 0.64% ke 8.212 pada 18 Februari. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,64% ke level 8.212 pada perdagangan Selasa, 18 Februari 2026. Penurunan ini menjadi koreksi terdalam dalam seminggu terakhir setelah IHSG sempat bertahan di atas 8.260 sejak awal bulan. Tekanan jual terutama datang dari saham-saham blue chip di sektor perbankan dan konsumer, sementara investor asing kembali mencatat net sell moderat sebesar Rp 412 miliar di pasar reguler. Meski demikian, pelemahan hari ini masih tergolong wajar dalam konteks pasar yang sudah menguat signifikan sejak akhir 2025. Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi menjadi pemicu utama, ditambah sentimen domestik terkait proyeksi defisit APBN 2026 yang sedikit lebih lebar dari target awal. BERITA TERBARU

Faktor Tekanan Utama dan Performa Sektor: IHSG Turun 0.64% ke 8.212 pada 18 Februari

Pelemahan IHSG pada 18 Februari didominasi oleh aksi profit taking di saham-saham big cap. Sektor perbankan menjadi penekan terbesar dengan BBCA turun 1,2%, BBRI melemah 0,9%, dan BMRI terkoreksi 0,8%. Ketiga saham ini menyumbang lebih dari 40% bobot penurunan indeks. Sektor konsumer juga tertekan setelah beberapa emiten melaporkan pertumbuhan penjualan kuartal IV 2025 yang lebih lambat dari ekspektasi analis. Di sisi lain, sektor energi dan komoditas masih relatif tangguh: saham-saham batu bara dan nikel seperti ADRO dan NCKL justru menguat tipis di atas 1% berkat rebound harga komoditas global.
Investor asing mencatat net sell Rp 412 miliar di pasar reguler, melanjutkan tren outflow sejak pertengahan Januari 2026. Meski demikian, outflow ini masih jauh lebih kecil dibandingkan periode akhir 2025 ketika net sell mencapai Rp 2–3 triliun per hari. Pelaku pasar domestik tampaknya masih dominan menahan posisi, terlihat dari volume perdagangan yang tetap tinggi di Rp 12,4 triliun dengan frekuensi transaksi mencapai 1,8 juta kali. Analis pasar menilai pelemahan ini lebih bersifat koreksi teknikal setelah IHSG sempat menyentuh all-time high 8.312 pada 12 Februari. Level support terdekat berada di 8.150–8.180, sementara resistance berikutnya di 8.300–8.350.

Sentimen Pasar dan Prospek ke Depan: IHSG Turun 0.64% ke 8.212 pada 18 Februari

Sentimen pasar pada 18 Februari dipengaruhi beberapa faktor. Di eksternal, penguatan indeks dolar AS (DXY) ke atas 105 dan yield US Treasury 10 tahun yang bertahan di kisaran 4,35–4,40% membuat aset berisiko seperti saham emerging market kurang menarik. Di domestik, rilis data neraca perdagangan Januari 2026 yang surplus tapi lebih kecil dari ekspektasi serta proyeksi defisit APBN 2026 yang sedikit melebar ke 2,7% dari PDB menambah kehati-hatian investor. Namun, beberapa analis melihat koreksi ini sebagai peluang beli karena fundamental ekonomi Indonesia masih solid: pertumbuhan PDB 2025 tercatat 5,1% dan inflasi terkendali di bawah 3%.
Prospek jangka pendek IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat tipis menjelang akhir Februari, terutama jika The Fed memberikan sinyal dovish pada rapat FOMC akhir bulan. Level psikologis 8.200 menjadi support kunci; selama tidak tembus ke bawah, peluang rebound ke 8.300–8.350 masih terbuka lebar.

Kesimpulan

Penurunan IHSG 0,64% ke 8.212 pada 18 Februari 2026 merupakan koreksi wajar setelah penguatan signifikan di awal tahun. Tekanan jual di sektor perbankan dan konsumer serta outflow asing menjadi pemicu utama, tapi fundamental ekonomi domestik masih kuat dan mendukung potensi rebound. Di tengah Februari 2026, pasar saham Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global. Bagi investor jangka panjang, level 8.150–8.200 bisa menjadi zona akumulasi, sementara trader jangka pendek perlu waspada terhadap volatilitas menjelang akhir bulan. Secara keseluruhan, koreksi ini sehat dan tidak mengubah tren naik jangka menengah IHSG yang masih terjaga di atas 8.000.

BACA SELENGKAPNYA DI…