Gaza: 22 Tewas dalam Serangan Malam Hari

Gaza: 22 Tewas dalam Serangan Malam Hari. Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada malam Kamis hingga Jumat dini hari (12–13 Februari 2026). Sebanyak 22 warga Palestina tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat rentetan serangan yang menyasar beberapa kawasan pemukiman padat di Gaza City dan Deir al-Balah. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata sementara yang rapuh dan pembicaraan gencatan senjata yang masih berlangsung di Doha. Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk: stok makanan, obat-obatan, dan bahan bakar hampir habis, sementara lebih dari 1,9 juta penduduk masih mengungsi di berbagai tempat penampungan sementara. REVIEW KOMIK

Detail Serangan dan Korban: Gaza: 22 Tewas dalam Serangan Malam Hari

Serangan dimulai sekitar pukul 23.30 waktu setempat dengan setidaknya delapan serangan udara berturut-turut dalam kurun waktu dua jam. Target utama adalah tiga rumah keluarga di lingkungan Al-Zeitoun dan Al-Sabra di Gaza City, serta satu gedung bertingkat di Deir al-Balah. Rumah pertama di Al-Zeitoun runtuh total, menewaskan 11 orang dari satu keluarga besar. Di Al-Sabra, serangan menghantam rumah yang menampung beberapa keluarga pengungsi, menewaskan 7 orang termasuk empat anak. Di Deir al-Balah, serangan menyasar sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat penampungan sementara, menewaskan 4 orang lainnya.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa dari 22 korban tewas, 14 di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Lebih dari 60 orang terluka, sebagian besar dalam kondisi kritis karena luka pecahan dan trauma benturan. Rumah sakit terdekat, terutama RS Al-Aqsa di Deir al-Balah dan RS Nasser di Khan Younis, kewalahan menangani korban. Banyak pasien harus dirawat di lorong dan halaman rumah sakit karena kekurangan tempat tidur dan alat medis. Tim penyelamat sipil dan relawan masih bekerja hingga Jumat siang untuk mengeluarkan korban yang tertimbun reruntuhan.

Konteks dan Respons Berbagai Pihak: Gaza: 22 Tewas dalam Serangan Malam Hari

Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah kedua belah pihak menyepakati perpanjangan jeda kemanusiaan selama 72 jam yang dimediasi Qatar dan Mesir. Jeda tersebut seharusnya memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah lebih besar, namun serangan malam ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan tersebut. Militer Israel menyatakan serangan dilakukan terhadap “target militer Hamas” dan mengklaim telah menghindari korban sipil sebanyak mungkin. Namun laporan dari lapangan dan rekaman warga menunjukkan bahwa target yang diserang adalah rumah-rumah sipil tanpa kehadiran pejuang bersenjata.
Pemerintah Palestina di Ramallah menyebut serangan ini sebagai “kejahatan perang baru” dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan sidang darurat. Qatar dan Mesir, selaku mediator, menyatakan keprihatinan mendalam dan memperingatkan bahwa serangan semacam ini dapat menggagalkan pembicaraan gencatan senjata yang sedang berlangsung. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali menyerukan “perlindungan warga sipil tanpa syarat” dan mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan. Di sisi lain, juru bicara militer Israel menyatakan bahwa operasi akan terus dilakukan selama Hamas tidak memenuhi tuntutan pembebasan sandera dan penghentian aktivitas militer.

Kesimpulan

Serangan malam hari yang menewaskan 22 warga sipil di Gaza menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di wilayah tersebut. Di tengah upaya mediasi yang masih berlangsung, kejadian ini menunjukkan betapa sulitnya mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan ketika kepercayaan antarpihak sangat rendah. Bagi warga Gaza yang sudah kelelahan akibat lebih dari 15 bulan konflik, setiap malam yang seharusnya membawa istirahat justru sering berakhir dengan ketakutan dan duka baru. Dunia internasional kembali dihadapkan pada pilihan sulit: terus mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan atau membiarkan siklus kekerasan berlanjut. Yang pasti, selama korban sipil—terutama anak-anak—terus berjatuhan, tidak ada pihak yang benar-benar menang dalam konflik ini. Semoga jeda kemanusiaan yang ada dapat diperpanjang dan diperkuat, sehingga warga Gaza bisa mendapatkan napas sejenak dari penderitaan yang berkepanjangan.

BACA SELENGKAPNYA DI…